Advertisement

Suara dari Tanah Batak yang Terlupakan

Suara dari Tanah Batak yang Terlupakan

Oleh: Haryanto Napitupulu


Sejarah, pada akhirnya, bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Ia adalah soal ingatan, tentang apa yang dipilih untuk dikenang, dan apa yang perlahan dilupakan.

Di Tanah Batak, ingatan itu tidak selalu utuh. Ia menyerupai cermin retak: satu sisi memantulkan kisah tentang “terang” yang datang dari luar, sementara sisi lain menyimpan bayangan yang lama teredam, tentang leluhur yang perlahan tersisih dari narasi besar.

Di antara retakan itu, saya berdiri. Bukan untuk menolak, melainkan untuk mengingatkan.

Saya lahir dan besar dalam tradisi Kristen, di lingkungan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Sejak kecil, saya akrab dengan doa, nyanyian pujian, dan ajaran gereja. Namun seiring waktu, muncul pertanyaan yang tak mudah dijawab: sebagai orang Batak, dari mana sesungguhnya akar spiritual saya berasal?

Pencarian itu membawa saya kembali kepada satu konsep yang telah hidup jauh sebelum agama-agama besar hadir di Tanah Batak: Debata Mulajadi Nabolon, Tuhan Yang Maha Tinggi dalam pemahaman leluhur.

Pilihan saya menjadi Parmalim lahir dari proses itu. Bukan bentuk penolakan, melainkan upaya memahami. Bukan perlawanan, melainkan perawatan terhadap warisan yang telah lama ada.


Stigma yang Mengendap dalam Bahasa

Namun perjalanan ini tidak lepas dari luka.

Dalam keseharian, istilah “sipele begu” masih kerap dilontarkan kepada mereka yang memegang kepercayaan leluhur. Ia bukan sekadar kata, melainkan stigma yang menyederhanakan sebuah tradisi panjang menjadi sesuatu yang dianggap gelap.

Masalahnya bukan hanya pada perbedaan keyakinan, melainkan juga pada cara memandang martabat.

Sebab ketika sebuah kepercayaan direndahkan, yang ikut tereduksi adalah ingatan kolektif tentang leluhur, tentang mereka yang mewariskan adat, nilai, dan cara memahami kehidupan.

Dalam pengalaman dan pembacaan saya, pandangan semacam ini tidak hanya hidup dalam percakapan sehari-hari, tetapi juga kerap muncul dalam sebagian cara ajaran keagamaan dipahami dan disampaikan di ruang-ruang tertentu.

Sebagian penghayat kepercayaan leluhur menilai bahwa terdapat penafsiran yang memposisikan konsep Debata Mulajadi Nabolon secara kurang tepat, seolah-olah berada dalam ranah yang sama dengan “begu” atau roh yang lebih rendah. Penafsiran seperti ini, bagi kami, tidak hanya menyederhanakan, tetapi juga berpotensi mereduksi makna ketuhanan yang telah lama hidup dalam tradisi Batak.

Di sisi lain, penting juga diakui bahwa banyak kalangan dalam komunitas keagamaan, termasuk di lingkungan gereja, yang memandang isu ini secara lebih terbuka dan mendorong pendekatan dialogis. Tidak semua pemahaman bersifat seragam, dan di dalamnya terdapat upaya-upaya untuk membangun saling pengertian.

Saya menyadari bahwa perbedaan ini dapat berakar dari keragaman tafsir, bukan semata-mata niat. Karena itu, ruang dialog menjadi penting, agar tidak ada lagi kesalahpahaman yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Sejarah yang Perlu Dibaca Ulang

Nama Ingwer Ludwig Nommensen memiliki tempat penting dalam sejarah Batak modern. Ia dikenal sebagai tokoh yang berperan dalam pendidikan dan penyebaran agama Kristen di kawasan ini. Kontribusi tersebut tercatat dan diakui.

Namun, pertanyaan yang layak diajukan: apakah sejarah cukup dibaca sebagai satu kisah tunggal?

Sejumlah kajian akademik kerap menunjukkan bahwa aktivitas misi pada masa itu hadir dalam konteks yang lebih luas, termasuk dinamika kolonialisme Belanda di pedalaman Sumatra.

Di saat yang sama, perlawanan terhadap kolonialisme juga berlangsung, salah satunya dipimpin oleh Sisingamangaraja XII, figur yang dalam tradisi Batak tidak hanya dipandang sebagai pemimpin politik, tetapi juga memiliki dimensi spiritual.

Dalam konteks seperti itu, perubahan keagamaan tidak terjadi di ruang hampa. Ia berlangsung di tengah relasi yang tidak selalu setara, antara kekuatan luar dan masyarakat lokal.

Di sisi lain, tidak dapat diabaikan bahwa proses tersebut juga membawa dampak positif, terutama dalam bidang pendidikan, literasi, dan pembentukan institusi sosial yang masih dirasakan hingga kini oleh sebagian masyarakat Batak.

Membaca ulang sejarah dalam bingkai ini bukan berarti menolak seluruh warisan yang ada. Justru sebaliknya, ini adalah upaya untuk melihatnya secara lebih utuh, termasuk bagian-bagian yang selama ini kurang mendapat ruang.


Tentang Tuhan dan Cara Menyebut-Nya

Kesalahpahaman lain yang kerap muncul adalah anggapan bahwa kepercayaan kepada Debata Mulajadi Nabolon identik dengan penyembahan roh atau praktik yang menyimpang.

Dalam pemahaman saya, anggapan tersebut tidak mencerminkan keseluruhan konsep spiritual Batak.

Debata Mulajadi Nabolon dipahami sebagai Tuhan Yang Maha Esa, pencipta, sumber kehidupan, dan pengatur alam semesta. Sebuah konsep yang, dalam banyak hal, memiliki kemiripan dengan pemahaman ketuhanan dalam tradisi monoteistik lain, meskipun berbeda dalam bahasa dan simbol.

Di sisi lain, saya juga memahami bahwa perbedaan teologis adalah hal yang wajar dalam setiap tradisi keagamaan. Setiap keyakinan memiliki kerangka ajarannya sendiri, dan perbedaan tersebut tidak selalu harus dipertentangkan.

Perbedaan cara menyebut Tuhan semestinya tidak menjadi alasan untuk merendahkan satu sama lain, melainkan menjadi ruang untuk saling memahami.


Di Antara Kritik dan Pengakuan

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk meniadakan peran siapa pun dalam sejarah, termasuk peran Nommensen.

Sejarah selalu berada dalam ruang yang kompleks. Ia tidak sepenuhnya hitam atau putih. Di dalamnya terdapat kontribusi yang layak dihargai, sekaligus dampak yang patut dikaji ulang.

Mengakui satu sisi tidak berarti menutup mata terhadap sisi lainnya.

Tulisan ini juga tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan keyakinan atau merendahkan ajaran mana pun, melainkan mengajak membuka ruang yang lebih jujur, setara, dan saling menghormati.


Merawat Ingatan, Menjaga Hormat

Pada akhirnya, yang saya ajukan bukanlah penolakan, melainkan ajakan: membuka ruang untuk melihat sejarah dengan lebih jernih dan berimbang.

Bahwa sebelum gereja berdiri, sebelum kitab-kitab dari luar dibaca, leluhur Batak telah memiliki cara sendiri dalam memahami Tuhan, alam, dan kehidupan.

Bahwa warisan itu bukan sesuatu yang harus dihapus, melainkan bagian dari identitas yang layak dihormati.

Kita mungkin tidak bisa kembali ke masa lalu. Namun kita masih bisa memilih cara memandangnya.

Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibentuk oleh apa yang ia terima hari ini, tetapi juga oleh bagaimana ia memperlakukan ingatan tentang asal-usulnya.

Dan di sanalah, penghormatan menjadi jembatan yang paling mungkin dijaga, di tengah perbedaan yang tidak terelakkan.

Horas Bangso Batak.


Catatan Redaksi:

Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi.