Advertisement

Cakap-Cakap Mardongan: Banjir Bandang dan Kayu Gelondongan, Suara Jujur dari Warung Kopi

Cakap-Cakap Mardongan: Banjir Bandang dan Kayu Gelondongan, Suara Jujur dari Warung Kopi

Mardongan sudah duduk dari tadi. Kopinya tinggal setengah. Pak Boy datang pelan, duduk, langsung pesan kopi hitam.

“Pahit kali kopinya sekarang,” kata Mardongan.
“Entah kopinya, entah hidup.”

Pak Boy senyum tipis.

“Kopi tetap kopi. Yang bikin pahit itu kabar-kabar.”

Mardongan menggeser gelas.

“Abang tengok berita semalam? Air turun dari bukit, bawa kayu besar-besar. Rumah orang dihantam, macam mainan.”

Pak Boy mengangguk pelan.

“Iya. Air sekarang tak datang sendirian. Selalu bawa kawan.”

“Kayu,” sahut Mardongan cepat.

Pak Boy menyeruput kopi.

“Kalau kayu sebesar itu masih dibilang hanyut sendiri, berarti yang ngomong itu memang niat tak mau mikir.”

Mardongan terkekeh pahit.

“Tapi ujung-ujungnya tetap disebut musibah.”

Pak Boy mendengus.

“Itu kata paling aman. Tak perlu cari siapa yang tebang, siapa buka bukit, siapa dapat untung.”

Warung agak senyap.
Suara sendok beradu dengan gelas.

“Lucunya,” lanjut Pak Boy,
“waktu kayu ditebang, jelas punya tuan. Begitu menghantam rumah orang, mendadak tak bertuan.”

Mardongan menggeleng.

“Korban jelas. Rumah habis. Tapi asal kayu itu, tak pernah ditanya.”

Pak Boy mengetuk meja pelan.

“Karena yang dicari bukan kebenaran. Yang penting suasana tenang, orang diam, urusan selesai.”

Mardongan menyandar.

“Akhirnya hujan yang disalahkan.”

Pak Boy melirik.

“Hujan dari dulu ya hujan. Yang berubah itu cara orang memperlakukan alam, hutan dibikin kosong, pas air marah, alam yang dimaki.”

Mardongan menarik napas.

“Berarti ini bukan bencana alam.”

Pak Boy tersenyum tipis.

“Ini kerja manusia. Cuma dibungkus rapi, dikasih nama takdir, biar semua kelihatan wajar.”

Ia berdiri perlahan.

“Aku sudah tua. Sudah sering lihat cerita kekgini. Polanya sama, korban selalu ada.”

Mardongan ikut bangkit.

“Sampai kapan ceritanya kekgini terus?”

Pak Boy menepuk meja sekali.

“Selama kayu masih turun dari bukit, berarti masih ada yang naik ke sana. Dan selama yang naik itu tak pernah dicari, air akan terus datang, bawa kayu, bawa petaka.”

Ia melangkah pergi.

“Alam sudah bicara dari lama. Yang pura-pura tak dengar itu manusia.”


Refleksi Kopi

Di warung kopi, orang bicara apa adanya. Tak pakai istilah rumit. Kayu gelondongan yang ikut banjir bandang bukan kebetulan, melainkan jejak dari keputusan yang diambil jauh sebelum air meluap. Ketika sebab tak pernah dicari, bencana dianggap peristiwa biasa. Alam memberi tanda, manusia memilih lupa.


Keterangan Redaksi

Rubrik Cakap-Cakap Mardongan disajikan dalam bentuk dialog fiktif dengan gaya dialek khas Sumatera Utara sebagai medium refleksi sosial dan lingkungan. Seluruh tokoh dan percakapan merupakan konstruksi naratif, tidak merujuk pada individu, kelompok, maupun lembaga tertentu. Ditulis dengan pendekatan jurnalisme sastra yang kritis, lugas, dan menjunjung etika jurnalistik.

Iklan Jivantika Berita