Jakarta, GrivMedia — Ketegangan politik di tengah aksi protes pembubaran DPR berujung pada aksi penyebaran disinformasi berbahaya. Nomor telepon seluler milik sejumlah aktivis hak asasi manusia dan tokoh masyarakat sipil, seperti Haris Azhar, Muhammad Isnur, Usman Hamid, dan Said Iqbal, beredar luas di WhatsApp. Nomor-nomor tersebut diklaim sebagai nomor anggota DPR RI yang belakangan menjadi sasaran kemarahan publik.
Pesan berantai yang mulai beredar Sejak Sabtu (30/8/2025) itu menyebut, “No WA anggota DPR RI yang bikin rakyat marah karena joget-joget,” mengacu pada aksi sejumlah anggota DPR berjoget ria saat Sidang Tahunan MPR-DPR-DPD di Senayan, 15 Agustus lalu.
“Banyak pesan masuk dengan nada ancaman dan makian,” kata Haris Azhar saat dikonfirmasi melalui pesan singkat. “Saya tidak tahu siapa yang awalnya mengirim, tapi tersebar ke banyak grup.”
Fenomena serupa dialami Ketua Umum YLBHI, Muhammad Isnur. “Banyak pesan kasar yang masuk. Orang mengira saya Eko Patrio,” ujarnya.
YLBHI melalui keterangan resminya menegaskan bahwa nomor-nomor tersebut bukan milik anggota DPR. Mereka mengimbau publik untuk tidak menghubungi nomor yang tersebar dalam pesan berantai itu.
Kasus ini mencuat di tengah meningkatnya gelombang demonstrasi dan aksi massa yang memuncak hingga penjarahan rumah legislator Ahmad Sahroni di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Massa mengaku geram dengan pernyataan Sahroni yang menyebut kritik pembubaran DPR sebagai “tolol”.
Insiden ini memperlihatkan bagaimana krisis kepercayaan publik pada parlemen merembet ke aksi-aksi spontan, baik di jalanan maupun di ruang digital, memperuncing ketegangan antara rakyat dan wakilnya.
Dilansir dari Tempo
Tim GrivMedia












