Pamekasan, GrivMedia — Menjelang Idul Fitri 1447 H, Keraton Parupuh Aryo Menak Senoyo menggelar rangkaian ritual adat Dhudhus sebagai bagian dari prosesi penyucian calon raja.
Ritual Dhudhus merupakan prosesi siraman suci yang menggunakan air dari tujuh sumur keraton serta satu sumber air dari Jolotundo di lereng Gunung Penanggungan, Mojokerto. Prosesi juga dilengkapi dengan bunga tujuh rupa yang melambangkan penyucian lahir dan batin.
Upacara ini menjadi kelanjutan dari tahapan sebelumnya, yakni ritual Nyello’ Aing 7 Sumur Keraton serta tadarus Al-Qur’an selama 40 hari yang berlangsung sejak Januari hingga Februari 2026 dan berlanjut sepanjang bulan Ramadan.
Dalam prosesi tersebut, calon raja dimandikan oleh tujuh kerabat laki-laki dan tujuh kerabat perempuan. Ritual ini mencerminkan simbol keseimbangan serta kesiapan menjalankan tanggung jawab kepemimpinan adat dalam berbagai dimensi kehidupan.
Kegiatan diselenggarakan oleh Yayasan Bujuk Gayam Aryo Menak Senoyo yang berpusat di Desa Proppo, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, Madura.
Sejumlah unsur pemerintah dan aparat turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya perwakilan kepolisian, TNI, pemerintah kecamatan, serta tokoh adat setempat. Dalam rangkaian yang sama, dilakukan pula pengukuhan ketua wilayah adat sebagai bagian dari penguatan struktur kelembagaan.
Tokoh adat penerus Keraton Parupuh, Miftahussurur Fatah, S.E., menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan merupakan satu kesatuan proses spiritual yang berkesinambungan, dimulai dari ritual air, tadarus Al-Qur’an, hingga prosesi penyucian sebelum penobatan.
Selanjutnya, Keraton Parupuh akan melanjutkan agenda Sidang Adat, Majelis Adat Indonesia, serta prosesi penobatan raja sebagai puncak rangkaian kegiatan.
Laporan: Tim GrivMedia | Editor: Redaksi












