Advertisement

Cakap-Cakap Mardongan: Negeri Gelap, Warung Kopi Jadi Posko Pikiran

Cakap-Cakap Mardongan: Negeri Gelap, Warung Kopi Jadi Posko Pikiran

“Don… pernah kau bayangkan kalau kita tiba-tiba hidup macam orang di Timur Tengah itu?”

Ucok menyender di kursi plastik. Lampu warung kopi hanya hidup dari genset kecil yang bunyinya meraung di sudut belakang.

Mardongan meniup kopi hitamnya pelan.

“Karena listrik mati dua malam ini?”

Ucok tertawa hambar.

“Bukan sekadar mati, Don. Satu jalur putus, langsung tiga sampai empat provinsi lumpuh. Internet habis. Orang bingung semua.”

Di luar warung, jalanan masih gelap. Sesekali suara sepeda motor lewat memecah sunyi.

“Yang paling terasa itu bukan lampunya,” lanjut Ucok.
“Tapi waktu internet hilang.”

Mardongan mengangguk pelan.

“Sekarang orang kerja, jualan, transfer uang, pesan makanan, sampai komunikasi keluarga… semua tergantung jaringan.”

“Betul kali itu.”

Warung kopi mendadak riuh sebentar. Ada pelanggan lain mengeluh karena dompet digitalnya tak bisa dipakai.

Ucok tersenyum tipis.

“Nah kan. Baru beberapa jam saja orang sudah kalang kabut.”

Dari meja sebelah, seorang pria tua ikut menyahut tanpa diminta.

“Di kampungku lebih parah lagi.”

Mereka menoleh.

“Air pun ikut mati.”

“Karena mesin?” tanya Mardongan.

Pria itu mengangguk.

“Air belum sempat naik ke ujung kampung, listrik sudah padam lagi. Pipa kosong semua. Orang tak bisa mandi, tak bisa masak.”

Warung kembali hening.

Mardongan menatap jalan gelap di depan warung.

“Berarti satu gangguan saja bisa merembet ke mana-mana.”

“Ya itulah,” jawab Ucok.
“Listrik mati, internet mati. Internet mati, aktivitas berhenti. Air pun ikut mati.”

Ia mengaduk kopi perlahan.

“Kadang baru sadar kita ini rapuh setelah semuanya berhenti serentak.”

Mardongan mengangguk.

“Ternyata melumpuhkan wilayah tak perlu banyak serangan. Cukup satu gardu utama bermasalah, habis semua.”

Ucok tertawa kecil.

“Makanya aku heran. Tak ada cadangan kah? Tak ada sistem pengaman?”

“Pertanyaan begitu wajar.”

“Tapi ya begitulah, Don,” sahut pria dari meja sebelah lagi.
“Kalau tak ada saingan, orang pun kadang lambat berbenah.”

Kalimat itu membuat meja mereka sunyi beberapa detik.

Ucok memecah tawa lebih dulu.

“Jangankan mikir cadangan listrik, katanya perusahaan saja masih rugi.”

Mardongan tersenyum tipis.

“Dan masyarakat pun cepat pasrah.”

“Karena tiap ada gangguan, jawabannya tetap sama,” kata Ucok.
“Faktor alam. Minta maaf. Selesai.”

“Tapi orang kita memang begitu,” jawab Mardongan sambil tertawa kecil.
“Budaya kekeluargaan terlalu kuat. Marah sebentar, habis itu memaklumi.”

Warung kopi pecah oleh tawa ringan.

Namun di balik tawa itu, kegelisahan tetap terasa.

Lampu genset sempat berkedip.

Semua spontan menoleh ke atas.

Refleksi Kopi

Pemadaman listrik bukan semata soal gelap.
Ia membuka kenyataan betapa kehidupan modern bertumpu pada satu jaringan yang saling terkait.

Ketika listrik padam, internet lumpuh.
Ketika internet lumpuh, aktivitas ekonomi tersendat.
Dan ketika sistem air ikut berhenti, masyarakat mulai merasakan rapuhnya pelayanan dasar.

Pertanyaan publik tentang kesiapan infrastruktur cadangan bukan bentuk menyalahkan, melainkan bagian dari hak untuk memahami seberapa siap sistem menghadapi gangguan besar.

Sebab di tengah dunia yang makin bergantung pada teknologi, ketahanan layanan dasar bukan lagi sekadar kebutuhan teknis, tetapi menyangkut rasa aman masyarakat.

Keterangan Redaksi

Rubrik Cakap-Cakap Mardongan merupakan dialog reflektif berlatar warung kopi khas Sumatera Utara. Tokoh dan percakapan bersifat fiksi sosial yang merepresentasikan dinamika serta keresahan publik, tanpa merujuk pada individu atau pihak tertentu.