Di negeri ini, kemiskinan bukan sekadar keadaan,
ia adalah tata cara.
Orang yang tak punya diminta menjaga sikap,
seolah kekurangan adalah kesalahan teknis
yang harus diperbaiki dengan senyum.
Jika ia sakit, itu dianggap ceroboh.
Seakan tubuh wajib tahu diri,
tidak boleh rusak di luar anggaran.
Jika ia mengeluh, itu dianggap berisik.
Suara dari bawah dinilai gangguan,
bukan kebenaran yang mencari tempat.
Jika ia tersinggung, ia disebut baper.
Padahal harga diri tak pernah mengenal saldo.
Kita pandai sekali membagikan nasihat:
tentang sabar, tentang ikhlas, tentang legawa.
Aneh, semua petuah itu
selalu turun dari atas ke bawah,
tak pernah sebaliknya.
Yang berlimpah boleh marah, itu tegas.
Yang kekurangan harus tenang, litu dewasa.
Begitulah standar ganda dirawat
lalu dinamai kebijaksanaan.
Padahal mungkin yang paling dibutuhkan
bukan kesabaran yang dipaksakan,
melainkan kejujuran untuk mengakui
bahwa kita terlalu sering
menyederhanakan luka orang lain
demi kenyamanan kita sendiri.
Dan selama kemiskinan terus diminta beretika,
ketidakadilan akan tetap merasa dirinya sopan.
Oleh Ricki Hamdani, A.Md.Kom.












