Asap rokok bercampur aroma kopi hitam memenuhi ruangan sempit itu. Dari televisi tua di pojok ruangan, suara berita terdengar samar kalah oleh obrolan para pelanggan.
Ucok membuka ponselnya lalu meletakkannya di meja.
“Ini yang kubilang tadi, Don.”
Mardongan melirik sekilas.
Di layar tampak selebaran digital. Huruf-huruf besar mengajak massa hadir dalam aksi dan konferensi pers pada tanggal yang sudah ditentukan. Bahasanya tegas. Nadanya panas. Seolah sesuatu besar akan terjadi.
“Tapi sampai sekarang tak ada juga,” kata Ucok.
“Yang ada malah alasan kendala.”
Mardongan menyeruput kopi pelan.
“Hmm.”
Ucok mengernyit.
“Makanya orang mulai bertanya-tanya sekarang.”
“Demo padam itu kenapa ya? Sudah 86 kah? Atau memang ada sesuatu?”
Beberapa kepala di meja sebelah ikut menoleh mendengar kalimat itu.
Mardongan tak langsung menjawab. Ia memandang jalanan di luar warung.
“Begini, Cok,” katanya perlahan.
“Kalau orang sudah menyebar seruan ke publik, berarti itu bukan lagi obrolan internal.”
Ucok mengangguk.
“Karena publik sudah diajak ikut percaya?”
“Betul itu.”
Mardongan melanjutkan tenang.
“Apalagi kalau narasinya dibuat menggebu-gebu. Seolah besok pagi dunia mau berubah.”
Ucok tertawa pendek.
“Pas hari H malah sunyi.”
“Lalu muncul kalimat klasik,” sambung Mardongan,
‘masih konsolidasi’, ‘ada kendala teknis’, ‘ditunda sementara’.”
Ucok mengangkat alis.
“Kalau memang belum siap, kenapa buru-buru bikin selebaran?”
Warung kopi mendadak hening sesaat. Hanya suara sendok beradu dengan gelas.
Mardongan tersenyum tipis.
“Kadang semangat lebih cepat daripada kesiapan.”
Ia menunjuk ponsel Ucok.
“Di zaman sekarang, membuat poster lebih mudah daripada menjaga konsistensi gerakan.”
Ucok tertawa keras.
“Itu pedas kali, Don.”
“Bukan pedas,” jawab Mardongan santai.
“Itu kenyataan.”
Ia lalu bersandar.
“Demo itu bukan cuma soal teriak paling keras. Tapi soal daya tahan.”
Ucok kembali melihat layar ponselnya.
“Makanya orang curiga sekarang. Awalnya api kali bahasanya. Setelah itu loyo.”
Mardongan mengangguk pelan.
“Publik memang punya hak bertanya.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Karena ketika isu sudah dilempar ke ruang publik, maka publik akan menilai ujungnya.”
Ucok menatap serius.
“Berarti kalau aksi batal atau berubah, harus dijelaskan lah?”
“Minimal begitu.”
“Supaya tak jadi fitnah?”
“Dan supaya kepercayaan tak hilang.”
Di meja sebelah, dua bapak-bapak mulai ikut berkomentar soal gerakan, hanya dengan modal kopi setengah gelas dan sepotong gorengan.
Mardongan tertawa kecil melihatnya.
“Negeri ini unik, Cok.”
“Kenapa pula?”
“Kadang yang paling cepat menyala juga paling cepat padam.”
Ucok tersenyum miring.
“Macam mercon tahun baru?”
“Pas lah itu.”
Ucok kembali bertanya pelan.
“Tapi Don… menurutmu publik sekarang makin kritis atau makin mudah lupa?”
Mardongan mengangkat gelas kopinya.
“Dua-duanya ada.”
Ia tersenyum tipis.
“Yang berbahaya itu kalau gerakan terlalu sering gaduh di awal tapi hilang di tengah jalan.”
Ucok mengangguk.
“Lama-lama orang tak percaya lagi?”
“Nah.”
Mardongan menatap keluar jendela.
“Padahal kepercayaan publik itu modal paling mahal.”
Ia menghela napas pendek.
“Sekali orang merasa dibakar semangat tanpa kejelasan arah, besok-besok mereka bisa memilih diam.”
Warung kopi kembali riuh. Seseorang baru saja menyimpulkan persoalan bangsa dari dua batang rokok dan satu gelas kopi dingin.
Mardongan tersenyum kecil.
“Warung kopi memang tempat lahir banyak pendapat.”
Ia lalu menambahkan tenang,
“Tapi kalau sudah bicara gerakan publik, jangan cuma pandai membakar suasana. Harus siap juga menjaga nyalanya.”
Refleksi Kopi
Di era media sosial, seruan aksi bisa menyebar hanya dalam hitungan menit. Poster dibagikan, narasi dibakar, emosi publik digerakkan.
Namun ketika janji aksi tak berjalan sesuai yang diumumkan, ruang kosong sering diisi spekulasi.
Publik berhak bertanya, karena kepercayaan tidak dibangun dari suara paling keras, melainkan dari konsistensi antara ucapan dan tindakan.
Gerakan boleh saja tertunda.
Tetapi komunikasi yang jujur tetap penting agar semangat publik tidak berubah menjadi kecurigaan.
Keterangan Redaksi
Rubrik Cakap-Cakap Mardongan merupakan dialog reflektif berlatar warung kopi khas Sumatera Utara. Tokoh dan percakapan bersifat fiksi sosial yang yang merefleksikan fenomena publik serta tidak ditujukan untuk menghakimi individu atau pihak tertentu.












