Advertisement

Cakap-Cakap Mardongan: Sekolah, Setan Relasi Kuasa, dan Anak-Anak yang Kehilangan Suara

Cakap-Cakap Mardongan: Sekolah, Relasi Kuasa, dan Anak-Anak yang Kehilangan Suara

Sore itu warung kopi di pinggir jalan terlihat padat. Kipas angin tua berputar malas di langit-langit. Aroma kopi bercampur bau gorengan yang baru diangkat dari kuali.

Di sudut warung, televisi yang digantung dekat rak rokok sedang menyiarkan berita nasional. Suara pembawa berita terdengar samar bercampur suara cangkir dan obrolan pelanggan.

Ucok yang sedari tadi memperhatikan layar televisi tiba-tiba menggeleng pelan.

“Don… makin tak habis pikir aku lihat berita sekarang.”

Mardongan yang sedang menyulut rokok menoleh.

“Kenapa rupanya?”

Ucok menunjuk televisi dengan dagunya.

“Itu. Kasus kekerasan lagi di tempat pendidikan. Yang buat miris, pelakunya orang yang selama ini dihormati. Pendiri pula.”

Beberapa orang di meja sebelah ikut melirik ke arah televisi.

Mardongan menghembuskan asap perlahan.

“Kacau… berat itu.”

Ucok menarik napas panjang.

“Kadang aku mikir, tempat yang harusnya mendidik anak malah jadi tempat anak tersiksa.”

Di luar warung, suara klakson angkot bersahut-sahutan. Seorang tukang parkir berteriak mengatur kendaraan yang mulai semrawut.

Mardongan menatap gelas kopinya.

“Itulah bahayanya kalau relasi kuasa terlalu tertutup.”

Ucok mengernyit.

“Maksudmu?”

“Kalau satu orang terlalu disegani tanpa kontrol, lama-lama bisa merasa dirinya tak tersentuh.”

Ucok mengangguk kecil.

“Karena semua takut melawan?”

“Bukan cuma takut. Kadang terlalu percaya.”

Seorang bapak tua yang sedari tadi membaca koran ikut bersuara.

“Kalau manusia sudah dipuja berlebihan, sering lupa dia juga bisa salah.”

Mardongan tersenyum tipis.

“Betul kali itu, Pak.”

Ucok menyeruput kopi cepat.

“Tapi jangan nanti semua lembaga pendidikan ikut dicurigai pula.”

“Nah, itu yang harus dipisahkan.”

Mardongan mencondongkan badan.

“Banyak sekolah dan lembaga pendidikan yang tetap bersih, mendidik, dan melahirkan anak-anak hebat.”

“Berarti masalahnya di oknum?”

“Dan sistem pengawasan.”

Suara sendok beradu dengan gelas terdengar dari meja kasir.

Di televisi, pembawa berita kembali membacakan soal perlindungan perempuan dan anak.

Ucok menghela napas.

“Peraturan sebenarnya sudah banyak, Don. Lembaga perlindungan anak juga ada. Tapi kasus begitu tetap muncul.”

Mardongan tertawa kecil tanpa ekspresi.

“Karena hukum saja tak cukup.”

Ucok mengangkat alis.

“Lalu apa lagi?”

“Kesadaran moral.”

Ia mengetuk dadanya pelan.

“Kalau manusia sudah kehilangan rasa malu dan tak takut berbuat dosa, jabatan apa pun bisa dipakai menyakiti orang.”

Ucok terdiam beberapa detik.

“Itulah gunanya agama?”

“Nah.”

Mardongan mengangguk pelan.

“Agama bukan sekadar simbol atau pakaian. Tapi rem supaya manusia tak liar.”

Televisi di sudut warung berganti ke tayangan lain. Namun beberapa pelanggan masih tampak membahas berita sebelumnya.

Ucok kembali bicara lirih.

“Kasihan kali korban-korban itu.”

“Yang paling sedih,” jawab Mardongan,
“kadang mereka takut bicara karena pelakunya orang berpengaruh.”

Ucok langsung menyahut.

“Takut tak dipercaya?”

“Takut dibungkam. Takut dianggap mencemarkan nama lembaga.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan budaya diam itu sering memperpanjang umur kekerasan.”

Warung kopi mendadak lebih tenang. Bahkan suara mesin kopi dari depan terdengar jelas.

Ucok menyandarkan tubuhnya.

“Menurutmu pemerintah sudah cukup serius belum?”

Mardongan menarik napas pendek.

“Kalau serius, pengawasan harus lebih kuat.”

“Di sekolah?”

“Di semua tempat yang punya relasi kuasa kuat.”

Ucok mengangguk pelan.

“Karena kekerasan bisa terjadi di mana saja?”

“Nah.”

Mardongan menunjuk ke arah televisi.

“Kadang orang sibuk menjaga nama baik lembaga, tapi lupa menjaga manusia di dalamnya.”

Kalimat itu membuat meja sebelah ikut hening.

Seorang pemuda yang sedari tadi bermain kartu domino tiba-tiba berkomentar pelan.

“Kalau anak-anak saja sudah tak merasa aman, rusak masa depan bangsa.”

Tak ada yang menyela.

Ucok memandang keluar warung. Matahari mulai turun, menyisakan cahaya jingga di ujung jalan.

“Tapi Don…”

“Ngeri kali ku rasa bah”

Mardongan tersenyum hambar.

“Karena yang dirusak bukan cuma tubuh korban.”

Ucok diam.

“Kepercayaan juga ikut hancur.”

Beberapa detik tak ada suara di meja mereka selain kipas angin tua yang berdecit pelan.

Lalu Mardongan mengangkat gelas kopinya.

“Negeri ini sebenarnya tak kekurangan aturan.”

Ucok langsung menimpali.

“Yang kurang apa?”

Mardongan menatap lurus ke arah jalanan yang mulai ramai menjelang malam.

“Keberanian menjaga yang lemah, meski pelakunya orang yang dianggap besar.”


Refleksi Kopi

Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terus menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan dan masyarakat luas. Ironisnya, sebagian terjadi di ruang yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya rasa aman dan pembentukan karakter.

Fenomena ini menunjukkan pentingnya pengawasan yang kuat di lingkungan dengan relasi kuasa tinggi. Tidak cukup hanya mengandalkan aturan dan simbol moral, tetapi juga dibutuhkan transparansi, keberanian melapor, dan penegakan hukum yang konsisten.

Di sisi lain, publik juga perlu bijak agar tidak menggeneralisasi seluruh lembaga pendidikan dari tindakan segelintir oknum. Banyak institusi pendidikan tetap menjalankan perannya dengan baik dalam membina generasi bangsa.

Melindungi anak bukan semata tugas keluarga atau sekolah, tetapi tanggung jawab bersama demi masa depan yang lebih manusiawi.


Keterangan Redaksi

Rubrik Cakap-Cakap Mardongan merupakan dialog reflektif berlatar warung kopi khas Sumatera Utara. Tokoh dan percakapan bersifat fiksi sosial yang merefleksikan fenomena publik serta tidak ditujukan untuk menghakimi individu maupun lembaga tertentu.