Jakarta, GrivMedia — Judulnya terdengar ganjil sekaligus provokatif. Namun beberapa pekan terakhir, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita justru ramai dibicarakan di media sosial, forum mahasiswa, hingga ruang-ruang diskusi publik. Film dokumenter itu memantik rasa penasaran publik setelah sejumlah agenda nonton bareng dilaporkan dibubarkan di beberapa daerah.
Mengutip akun Instagram Ekspedisi Indonesia Baru (@idbaruid), film tersebut mengangkat isu proyek strategis nasional (PSN) di Papua Selatan yang disebut berdampak terhadap masyarakat adat dan lingkungan hidup.
Film karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale itu merupakan hasil kolaborasi Watchdoc, Jubi Media, Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia. Dokumenter berdurasi sekitar 95 menit tersebut pertama kali diputar di Auckland pada 7 Maret 2026.
Alih-alih menjadi film hiburan, “Pesta Babi” membawa penonton menyusuri bentang hutan dan kampung adat di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Kamera merekam kehidupan masyarakat adat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu yang disebut menghadapi tekanan akibat ekspansi perkebunan tebu, sawit, hingga proyek food estate dan bioetanol.
Narasi film itu menyebut pembukaan lahan besar-besaran di Papua sebagai bentuk “kolonialisme modern”. Dokumenter tersebut juga menyinggung dugaan keterlibatan aparat keamanan dalam pengamanan proyek investasi di wilayah adat.
Judul “Pesta Babi” sendiri bukan merujuk pada pesta dalam pengertian umum. Istilah itu diambil dari tradisi adat masyarakat Muyu bernama Awon Atatbon, ritual budaya yang melibatkan babi sebagai simbol sosial, persaudaraan, dan identitas budaya. Dalam film, tradisi tersebut digambarkan terancam seiring menyusutnya hutan adat.
Kontroversi muncul setelah sejumlah pemutaran film dilaporkan dihentikan. Di Mataram, agenda nobar di kampus disebut dibubarkan demi menjaga kondusivitas. Sejumlah laporan lain juga menyebut adanya penghentian pemutaran di lingkungan kampus lain, termasuk di Ternate dan Yogyakarta.
Meski menuai polemik, ramainya pembahasan film ini justru memperluas diskusi publik tentang pembangunan, hak masyarakat adat, lingkungan hidup, hingga kebebasan berekspresi. Hingga kini, belum ada tanggapan resmi pemerintah terkait substansi film tersebut.
Sumber Kutipan
- Akun Instagram Ekspedisi Indonesia Baru (@idbaruid)
- Informasi publik pemutaran film dokumenter “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita”
- Keterangan komunitas dan laporan diskusi publik terkait nobar film di sejumlah daerah












