Oleh: Ricki Hamdani, A.Md.Kom.
Di atas panggung penuh lampu sorot kepalsuan,
mereka melenggang, mengenakan topeng-topeng retak yang mereka anggap kemuliaan.
Dengan tepuk tangan sendiri, mereka rayakan kemunafikan sebagai kesuksesan.
“Awas, dia terlalu keras bersuara,”
kata mereka sambil menggenggam mikrofon bisu
yang hanya menyuarakan aman bagi mereka yang duduk manis di belakang meja perjamuan, dengan perut kenyang tapi nurani kelaparan.
Mereka lemparkan ancaman seperti nasi basi ke kandang ayam. Murah, busuk, dan penuh lalat.
Pernah, katamu, peluru disiapkan untuk dadaku?
Silakan. Tembakkan. Tapi jangan harap aku berdiri memohon maaf seperti pengemis di depan singgasana palsumu.
Karena aku bukan dari barisan pengangguk,
yang takut kehilangan jatah nasi jika berkata jujur.
Aku anak merdeka, yang tahu bahwa lebih baik mati diterjang peluru daripada hidup memelihara lidah bercabang.
Pernah aku melawan perusahaan,
yang dengan congkak menginjak rumah orang tuaku.
Bukan sekadar bangunan, tapi tempat air mata dan doa tertanam. Aku meminta bantuan, tapi yang datang adalah tangan-tangan licik yang ingin mengubah penderitaan jadi ladang proyek.
Aku menolak jadi alat. Bukan karena sok jagoan,
tapi karena aku menolak tunduk pada kemunafikan.
Dan pernah,
seorang penjahat menelepon gelap, membisikkan kematian sambil menyebut denah rumahku dengan rinci. Tak ada yang lebih dekat dari maut selain ancaman yang tahu pintumu.
Tapi aku tetap berdiri. Bukan karena aku kebal,
melainkan karena aku tak sudi hidup di bawah ancaman.
Kalian sibuk bercermin
dalam pujian rekan-rekan sesama penjilat,
tak sadar, cermin itu retak, dan pantulan kalian menyerupai hantu tanpa prinsip.
Aku?
Aku tetap berjalan, walau sendirian.
Karena kebenaran tak butuh mayoritas,
dan keberanian tak pernah digaji oleh takut.
Jadi teruslah kalian membangun istana dari kata-kata palsu. Aku sedang menggali fondasi dari keyakinan.
Jika suatu saat nisan terpacak di atas jasadku,
pastikan ia bertuliskan:
“Ini bukan korban, ini pejuang.”












