Sumut, GrivMedia — Hujan deras yang tak mengenal henti selama dua hari turun seperti benang panjang tak putus, menyusuri lembah, menerjang rumah dan kebun, lalu pecah menjadi banjir bandang serta longsor di tujuh kabupaten/kota. Pada Rabu pagi (26/11), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Polda Sumut memperbarui data korban: 17 orang meninggal dunia, sementara 58 luka-luka.
Empat wilayah paling terdampak, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan mengalami banjir dan longsor bersamaan. Sementara Padangsidimpuan, Mandailing Natal, dan Nias Selatan terendam air dengan intensitas berbeda.
Di Sibolga, derasnya aliran air menyeret rumah, kendaraan, hingga bangunan yang dilaluinya. Lumpur, batang pohon, dan puing-puing menyatu menjadi gelombang pekat yang menghantam permukiman. Lima warga dilaporkan tewas.
Duka lebih dalam terasa di Tapanuli Selatan. Banjir dan longsor di 11 kecamatan memaksa ribuan orang mengungsi. Delapan warga meninggal, 58 luka-luka, dan 2.851 jiwa harus meninggalkan rumah mereka. Tim BPBD dan aparat gabungan kini mengerahkan alat berat untuk membuka akses yang tertimbun material tanah.
Di Tapanuli Utara, banjir memutus dua jembatan dan merusak puluhan rumah. Jalur alternatif Pangaribuan–Silantom menjadi penghubung sementara warga dan logistik.
Sementara Tapanuli Tengah mencatat 1.902 rumah terdampak di sembilan kecamatan. Air menggenangi kota, menutup jalan, dan menyisakan malam tanpa listrik di beberapa titik pedesaan.
Sumatera Utara kembali berduka. Namun pagi hari selalu datang, dan bersama itu upaya pemulihan pun bergerak. Pemerintah daerah, relawan, dan petugas gabungan terus bekerja menembus lumpur, mendata korban, serta mengembalikan nyawa kehidupan di wilayah terdampak.
Laporan: Tim GrivMedia












