Labuhanbatu, GrivMedia — Desa Tanjung Loban, Kecamatan Bilah Hilir, kini seolah dilingkupi kabut yang tak kunjung sirna. Di warung kopi yang tak pernah sepi, di lorong-lorong kampung yang remang, hingga di tepi sungai yang mengalir tenang, bisik-bisik warga selalu bermuara pada satu nama: AJ.
Ia diduga bukan pemain tunggal. Informasi yang dihimpun menyebut, AJ tak sendiri, ia berkolaborasi dengan seseorang berinisial ON, yang disebut-sebut ikut mengendalikan aliran sabu di kawasan itu.
Sumber lapangan menyebutkan, sebuah kawasan tangkahan di Bilah Hilir menjadi titik peredaran. Dari sana, sabu diduga merambat ke sejumlah desa sekitar: Tanjung Loban, Sei Kasih, Kampung Nilon, Sei Tarolat, Sidomulyo, Sungai Mambang, hingga Bangun Sari II.
Nama-nama lain juga disebut warga sebagai bagian dari jaringan: I, S, A, J, B, M, K, dan D.
“Anak saya masih sekolah. Takut sekali kalau sampai terjerat sabu,” ujar seorang ibu rumah tangga dengan nada penuh cemas.
Warga mendesak aparat penegak hukum, dari Polres Labuhanbatu hingga Polda Sumatera Utara, turun tangan menindak tegas jaringan tersebut.
“Jangan biarkan kampung kami hancur. Jangan tutup mata,” pinta seorang tokoh masyarakat yang memilih tak disebut namanya. Minggu (12/10).
Bagi warga Bilah Hilir, perang melawan sabu bukan hanya soal penegakan hukum, tetapi juga ikhtiar menyelamatkan masa depan anak-anak desa, agar tak tumbuh di bawah bayang hitam narkoba.
Hingga berita ini diterbitkan, Kapolres Labuhanbatu AKBP Choky Sentosa Meliala, S.I.K., Kasat Reserse Narkoba AKP Iwan Mashuri, S.H., M.H., dan Kanit Idik II Ipda Risnal Situngkir, S.H. belum dapat dimintai keterangan. Saat ini, awak media juga tengah berupaya mengonfirmasi keterangan tambahan dari Kabid Humas dan Kapolda Sumatera Utara.
Laporan: Tim GrivMedia












