Siantar, GM – Sebuah insiden tragis kembali mencoreng keselamatan pengguna jalan di Kota Pematangsiantar. Sebuah kendaraan odong-odong mengalami kecelakaan di Jalan Kartini Bawah, tepat di depan kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) setempat.
Peristiwa ini terekam dalam sebuah video yang viral di media sosial, diunggah oleh akun Facebook Cerita Kota Siantar dengan sumber video dari akun Yanti Ahmad, juga diunggah oleh akun Instagram Siantar Punya Cerita, hal ini pun memicu gelombang reaksi publik. Selasa, (8/4/25).
Dalam rekaman berdurasi singkat tersebut, terlihat odong-odong—kendaraan hiburan berbasis modifikasi yang kerap digunakan untuk mengangkut penumpang—mengalami kerusakan struktural mendadak. Bagian kerangka kendaraan patah, menyebabkan badan odong-odong roboh dan menimpa seorang wanita yang berada di dekat lokasi. Korban mengalami luka serius akibat insiden ini.
Warga sekitar segera bertindak memberikan pertolongan, sementara pengemudi odong-odong tampak kebingungan menghadapi situasi tersebut.
Kecelakaan ini bukan sekadar peristiwa tunggal, melainkan membuka luka lama terkait pengelolaan kendaraan tidak standar di wilayah ini.
Warganet langsung menyoroti persoalan yang lebih luas. “Tes urine terus,” tulis Rudy Smooth di kolom komentar, menyindir kemungkinan faktor human error. Sementara Apul Bigson Poerba menambahkan, “Perlu juga ditertibkan odong-odongnya,” menggarisbawahi urgensi penataan kendaraan tersebut.
Seorang warga Pematangsiantar yang meminta identitasnya dirahasiakan menyampaikan pandangan kritis kepada awak media. Menurutnya, kecelakaan ini adalah cerminan dari absennya ketegasan aparat berwenang.
“Selama saya tinggal di sini, odong-odong beroperasi seenaknya. Ugal-ugalan, musik diputar kencang, dan insiden serupa bukan hal baru—dari genset terbakar hingga tabrakan dengan mobil atau angkot. Pemerintah seolah menutup mata,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Ia melanjutkan, “Kendaraan seperti ini jelas-jelas tak layak jalan, tapi dibiarkan beroperasi tanpa regulasi yang jelas. Ke mana Dinas Perhubungan? Apa tugas Satlantas?” Warga ini menegaskan bahwa tanggung jawab atas insiden ini harus dibebankan kepada Satlantas Polresta Pematangsiantar, Dinas Perhubungan, hingga Wali Kota sebagai pemangku kebijakan tertinggi di kota tersebut.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak berwenang terkait kecelakaan tersebut. Absennya pernyataan dari Satlantas, Dishub, maupun Wali Kota Pematangsiantar semakin mempertebal kesan bahwa ada kelalaian sistemik dalam penanganan masalah ini.
Padahal, masyarakat berharap kejadian ini menjadi titik balik untuk mendorong langkah konkret demi keselamatan bersama. Kasus ini menunjukkan perlunya langkah segera dan terukur dari pemerintah kota.
Solusi ke Depan:
Pertama, Dinas Perhubungan harus segera melakukan audit menyeluruh terhadap semua odong-odong yang beroperasi di Pematangsiantar, memastikan standar kelayakan teknis dan keselamatan terpenuhi.
Kedua, Satlantas perlu meningkatkan pengawasan dan menindak tegas pelanggaran, termasuk potensi pengemudi di bawah pengaruh zat terlarang.
Ketiga, Wali Kota selaku otoritas tertinggi harus mengeluarkan regulasi khusus yang mengatur operasional odong-odong, lengkap dengan sanksi bagi pelaku usaha yang abai terhadap keselamatan.
Tanpa intervensi serius, insiden serupa akan terus berulang, mengancam nyawa warga dan mencoreng citra Pematangsiantar sebagai kota yang aman. Masyarakat menanti bukti nyata bahwa pemerintah tidak hanya bereaksi, tetapi juga proaktif mencegah tragedi di masa depan.












