Advertisement

Legenda Boru Naitang di Danau Toba, Tragedi yang Melahirkan Sitindaon

Samosir, GrivMedia – Riak Danau Toba kerap tampak tenang. Namun di kedalaman birunya, tersimpan kisah lama tentang cinta yang melampaui batas, tragedi yang menggores luka, sekaligus lahirnya sebuah garis keturunan: Marga Sitindaon.

Ratusan tahun silam, keluarga Naibaho Siahaan dikaruniai sepasang anak kembar: lelaki bernama Inar Naiborngin dan perempuan bernama Boru Naitang. Dalam adat Batak, keduanya disebut marito, saudara sekandung yang semestinya dijaga batasnya. Tetapi kebersamaan sejak kecil menumbuhkan kasih yang melampaui adat, menjelma menjadi cinta terlarang.

Kedekatan yang terlalu lekat membuat orangtua mereka, Naibaho Siahaan, mulai curiga. Ia pun berniat menikahkan Boru Naitang dengan pemuda lain. Pada masa itu, kecantikan Boru Naitang memikat banyak hati. Hingga akhirnya, lamaran anak Op. Palti Sinaga diterima keluarga. Namun tersimpan rahasia besar: tanpa sepengetahuan orangtua dan suaminya, Boru Naitang telah mengandung buah cinta dari saudara kembarnya sendiri, Inar Naiborngin.

Tatkala rahasia itu terbongkar, tragedi tak terelakkan. Dalam perjalanan menuju rumah orangtuanya, Boru Naitang menghabisi nyawa pasangan hidupnya. Ia kemudian bersembunyi hingga melahirkan seorang bayi laki-laki.

Namun aib tak mampu disembunyikan. Boru Naitang akhirnya dijatuhi hukuman: ditenggelamkan ke Danau Toba. Anehnya, setiap kali tubuhnya dilepaskan ke dasar danau, ia kembali muncul di tepian. Hingga ia sendiri meminta syarat terakhir: dibuatkan sebuah tambak, ditanam pohon beringin (jabi-jabi), seekor ayam putih, selembar tikar, serta hajut (wadah sirih).

Di atas tikar itulah ia meletakkan bayinya, sembari berpesan:

“Ianggo ho hasian, na ingkon tandaon ni halak do ho muse.”
(Hai anakku tercinta, kelak engkau akan dikenal dan diketahui orang lain.)

Bayi itu kemudian diasuh oleh Naibaho Hutaparik, yang kerap menyembunyikan keberadaannya. Kepada orang lain ia berkata, “Tu aha TANDAON i”—“Untuk apa kalian mengetahuinya.” Dari sanalah panggilan Tandaon muncul, lalu menjadi Tindaon, dan akhirnya dikenal sebagai Sitindaon.

Karena merasa terasing oleh statusnya, Sitindaon meninggalkan Pangururan dan berjalan hingga ke Onanrunggu, lalu menetap di sana.

Nasib berbeda dialami saudara kembarnya, Inar Naiborngin. Setelah mengetahui Boru Naitang akan dihukum mati, ia diliputi ketakutan karena merasa dirinya pun akan menerima nasib serupa. Ia melarikan diri ke Humbang-Lintong Nihuta, dan di sana bertemu Raja Raung Nabolon Sihombing Lumban Toruan.

Atas jasanya, Inar Naiborngin diangkat menjadi anak Sihombing Lumban Toruan, bahkan dinikahkan dengan menantu keluarga yang ditinggal wafat. Saat pengangkatan itu dibuatlah sebuah padan (janji adat), yang menegaskan ia tak lagi menjadi bagian dari Naibaho. Sejak saat itu, ia resmi masuk ke dalam marga Sihombing, dan namanya berubah menjadi Datu Galapang, seorang tokoh yang dikenal karena kesaktiannya.

Dari Sitindaon, kelak lahirlah garis keturunan yang menyebar dari Sibual-bual hingga Dairi, Tomok, dan penjuru tanah Batak. Ia menikah dengan boru Sianturi dan menurunkan empat anak: tiga lelaki yaitu Passalaut, Pangahuraja, dan Mangambittua, serta seorang perempuan yang akhirnya menikah dengan Raja Sonang Gultom.

Kini, di Tanjung Bunga, Pangururan, pemerintah daerah menetapkannya sebagai situs sejarah. Sebuah penanda bahwa dari cinta terlarang, dari tragedi yang getir, lahirlah sebuah marga yang hingga kini diakui dalam perjalanan panjang Batak.

Laporan: Tim GrivMedia


Catatan Redaksi

Tulisan ini disadur dari Sitindaon News, yang ditulis ulang Zul Abrum Sitindaon (A. Sakti Sitindaon) (Op. Ni Si Savana). Bersumber dari naskah Tarombo ni Marga Sitindaon hasil karya St. Abner Sitindaon pada periode 1957–1963.

Sebagai bagian dari tradisi tutur (tarombo), kisah ini memadukan legenda, mitos, dan sejarah keluarga. Redaksi menekankan bahwa publikasi ini bertujuan melestarikan warisan budaya Batak, bukan untuk menghakimi tokoh maupun peristiwa dalam cerita.