Advertisement

Cakap-Cakap Mardongan: Riset, Mikrofon, dan Terlalu Banyak Keyakinan

Ilustrasi orang berbicara di kafe dengan mikrofon dan riset di meja.

“Cok, di negeri ini kadang keyakinan datang lebih cepat daripada penelitian.”
Mardongan, sambil meniup kopi panas di warung ujung simpang.


Don, ada kau dengar kabar si Resmon itu?” tanya Ucok sambil menggoyang kursi plastik yang satu kakinya sedikit lebih pendek.

Mardongan mengangkat kepala pelan.

“Yang pakar forensik digital itunya?”

Iya lah.
Ucok mengangguk cepat.

“Dulu heboh kali dia bilang ijazah orang palsu. Di mana-mana dibahas. Grup WhatsApp keluarga awak pun sampai bising.”

Mardongan mengaduk kopi. Sendok kecil berdenting di gelas.

“Sekarang?”

Ucok menyeringai.

“Sekarang katanya pula ada yang keliru setelah diteliti ulang.”

Warung kopi sejenak hening. Hujan kecil mulai turun di luar.

Mardongan tersenyum tipis.

“Kalau penelitian direvisi, itu sebenarnya biasa saja, Cok.”

Ucok mengangkat alis.

“Bah? Biasa pula kau bilang?”

Mardongan menyeruput kopi pelan.

“Dalam ilmu pengetahuan, kesimpulan memang bisa berubah. Data baru datang, metode diperbaiki, analisis diperiksa ulang.”

Ucok mengangguk setengah yakin.

“Tapi dulu dia cakap di publik macam sudah pasti kali bah. Macam palu hakim sudah diketok.”

Mardongan menatap hujan yang mulai merintik.

“Nah, di situlah kadang ilmu kalah cepat dari mikrofon.”

Ia menunjuk ke arah jalan.

“Kau pernah lihat tukang sumur bor kerja?”

Pernah lah.

“Setelah selesai menggali, dia melapor ke siapa?”

Ucok tertawa kecil.

“Ya ke yang punya rumah lah.”

“Betul.”

Mardongan mengangguk.

“Dia tak pergi ke terminal menjelaskan kedalaman tanah ke sopir angkot.”

Ucok tertawa keras.

“Kalau begitu bisa disuruh gali parit nanti.”

Mardongan ikut tersenyum.

“Begitulah kira-kira dunia riset.”

Ia melirik bapak-bapak di meja sebelah yang sedang ribut membahas negara hanya dengan dua batang rokok.

“Penelitian itu mestinya diuji dulu di ruang ilmiah, di jurnal, di forum akademik, oleh orang yang paham metodenya.”

Ia berhenti sebentar.

“Bukan langsung diuji di panggung kamera.”

Ucok mengangguk pelan.

“Berarti kalau orang yakin penelitian orang lain salah?”

Mardongan menjawab singkat.

“Buat penelitian tandingan.”

Ucok tertawa.

“Tak cukup debat panjang di podcast?”

Mardongan menatapnya datar.

“Kalau debat bisa mengalahkan riset, dari dulu profesor sudah kalah sama komentator warung kopi.”

Ucok hampir tersedak kopi.

Hujan makin deras.

Ucok kembali bertanya pelan.

“Tapi Don… kalau orang sudah terlanjur bicara keras di depan publik, lalu cemana mengakui keliru?”

Mardongan menarik napas panjang.

“Mengakui keliru itu sebenarnya tanda integritas.”

Ia menatap jalan yang mulai sepi.

“Masalahnya, publik sering lebih ingat teriakannya daripada koreksinya.”

Ucok mengangguk.

“Jadi yang viral tetap yang dulu?”

“Biasanya begitu.”

Mardongan mengangkat gelas kopi.

“Di zaman sekarang, opini bisa berlari seperti kereta tanpa rem.”

Ia tersenyum kecil.

“Sementara penelitian berjalan seperti orang tua menyeberang jalan, pelan, hati-hati, tapi lebih tahu arah.”

Ucok menoleh ke arah meja bapak-bapak yang masih ribut.

Seseorang baru saja menyimpulkan masalah negara dari satu gelas kopi dan setengah batang rokok.

Mardongan tertawa pelan.

“Warung kopi ini bagus untuk cerita hidup.”

Ia menambahkan tenang,

“Tapi kalau menentukan kebenaran ilmiah… jangan pakai logika warkop.”

Refleksi Kopi

Di era ketika setiap orang bisa berbicara ke publik lewat kamera dan mikrofon, keyakinan sering tampil lebih dulu daripada verifikasi.

Padahal ilmu pengetahuan dibangun dari proses yang lambat: memeriksa data, menguji metode, dan berani memperbaiki kesimpulan.

Opini bisa lahir dalam satu malam.
Tetapi kebenaran ilmiah biasanya lahir dari kesabaran yang panjang.


Keterangan Redaksi

Rubrik Cakap-Cakap Mardongan merupakan dialog reflektif yang merekam percakapan imajiner di warung kopi Sumatera Utara. Tokoh dan percakapan merupakan fiksi sosial yang merefleksikan fenomena publik.