Jakarta, GM – Ada jejak sejarah yang nyaris terlupakan: delapan dekade lalu, gagasan Indonesia Raya sempat menggemakan impian persatuan antara Indonesia dan Malaya.
Pada 12 Agustus 1945, Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat bertemu Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam. Dalam perjalanan pulang, mereka singgah di Singapura dan Taiping, Perak, untuk menemui Ibrahim Yaacob dan Burhanuddin Al-Helmy, pemimpin nasionalis Malaya. Pertemuan itu melahirkan gagasan “Negara Indonesia Raya”, satu tanah air yang mencakup Indonesia, Malaya, Singapura, Brunei, hingga Kalimantan Utara.
“Mari kita ciptakan satu tanah air bagi mereka yang berdarah Indonesia,” kata Soekarno. Ibrahim Yaacob menjawab tegas, “Kami orang Melayu akan setia menciptakan tanah air dengan menyatukan Malaya dengan Indonesia yang merdeka.”
Namun, arus sejarah berkata lain. Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, memicu percepatan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus. Sementara Malaya baru merdeka 12 tahun kemudian, 31 Agustus 1957. Gagasan Indonesia Raya pun perlahan tenggelam.
Kini, sejarah itu kembali menjadi perbincangan publik, mengingatkan bahwa persaudaraan serumpun pernah hampir menyatu dalam satu bendera.
Berita ini dilansir dari CNBC Indonesia.
Tim GrivMedia












