Niatnya memberi gizi, tapi di kelas justru banyak yang tersisa, apa yang sebenarnya terjadi di lapangan? “Don, kau ada dengar…
Baca Selengkapnya

Niatnya memberi gizi, tapi di kelas justru banyak yang tersisa, apa yang sebenarnya terjadi di lapangan? “Don, kau ada dengar…
Baca Selengkapnya
“Cok, di negeri ini kadang keyakinan datang lebih cepat daripada penelitian.”— Mardongan, sambil meniup kopi panas di warung ujung simpang.…
Baca Selengkapnya
“Don,” kata Ucok pelan, suaranya tak seceria biasanya, “sudah kau dengar kabar itu?” Mardongan tak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk…
Baca Selengkapnya
Warung kopi di simpang itu masih setia. Kursinya goyang, lantainya bau ampas kopi. Tahun sudah ganti, tapi utang rokok masih…
Baca Selengkapnya
Mardongan sudah duduk dari tadi. Kopinya tinggal setengah. Pak Boy datang pelan, duduk, langsung pesan kopi hitam. “Pahit kali kopinya…
Baca Selengkapnya
“Kadang aku mikir, Cok,” kata Mardongan sambil mengaduk kopi yang sudah dingin, “kita ini warga negara atau tidak.” Ucok yang…
Baca Selengkapnya
Sore itu warung kopi agak riuh, bukan karena orangnya banyak, tapi karena hujan yang jatuh deras di atap seng. Ucok…
Baca Selengkapnya
“Cok, kau perhatikan dulu. Warung ini tiap malam penuh, tapi sunyinya macam kuburan,” kata Mardongan sambil menepuk kursi plastik yang…
Baca Selengkapnya
“Sekarang orang luar bebas kali masuk kampung kita, Don. Tapi yang jaga bunga, bukan manusia.”— Ucok, di bawah pohon jambu…
Baca Selengkapnya
“Zaman sekarang, bukan berapa banyak yang ditanam yang penting, Cok… tapi berapa kamera yang datang waktu nanam.”— Mardongan, di warung…
Baca Selengkapnya